Laman

Selasa, 13 Maret 2012

KULDESAK







Tak tahu
Apakah harus diam membisu
Atau perlahan maju
Di atas kerikil dan batu
Di tengah bongkahan besar nafsu
Dan segudang keinginan palsu
Aku berdiri di situ
Menatap penuh ragu
Adaku,
 bukan semata untuk kamu-kamu
tapi juga untuk aku
aku yang bukan kamu
untuk yang satu itu
mungkin aku akan bilang tidak mau
tapi pasti datang tangis pilu
dari kalian yang tak pernah mau tahu
mungkin juga aku maju
dengan sebuah motif semu
yang lalu menghantar aku
pada cerita penuh tipu
lalu bagaiman ku mesti berlaku
saat hati tidak mnentu?
Atau haruskah kuterus bisu
Dan membiarkan semua berlalu?
Dan aku
Masih lesu
Tanpa laku
Pada sebuah jalan buntu





PASTOR JUGA MANUSIA


Sesaat pikiran itu menggelinding manja
Menghantui akal sehatku....untuk selanjutnya
Memaksa aku dan juga mereka untuk memberi arti terdalam
Siapakah sebenarnya aku ini???
Ada yang bilang aku selayaknya selembar uang kertas....
Seberapa lecetnya kertas itu, toh tetap saja dicari banyak orang
Karena nilai tukarnya
Tapi, sayangnya ada yang bilang aku seperti BBM....
Nonsens bukan???
BBM kan langka dan sulit dicari sekarang....
Akankah aku seperti itu?
Akh........entahlah!!!
Tapi, bukankah mereka tahu kalau aku juga manusia?
Aku bukan Tuhan, apalagi yang punya pernak-pernik Ilahi
Aku juga masih dan mungkin akan tak sempurna dalam banyak hal
Tak seutuhnya damai dengan pelbagai seremoni kehidupan
Aku hanyalah seorang manusia......
Setidaknya dalam kondisi ‘ketelanjangan’ sebagai manusia
Mereka bisa tahu siapakah sebenarnya aku ini
Dan dalam tampilan publik yang terkadang juga ambigu
 Sekiranya mereka tahu untuk apa aku ada
Terlepas dari arti aku menurut diriku sendiri
Aku tidak kebal krisis, juga tidak kedap gelisah apalagi amarah
Aku juga bukan superman
Setidaknya kearifan umum bahwa tak seorangpun sempurna,
Menjadi konkrit dalam seluruh kisahku
No body’s perfect!
Ketahuilah bahwa aku adalah aku yang terlahir untuk tiga hal:
Taat, selibat dan miskin
Dan untuk tiga kebajikan:
Melayani...melayani...dan melayani!
Bukankah itu sudah cukup hanya untuk sekedar tahu siapakah aku ini?
Mungkin benar kata orang
Kalau aku tidak lebih dari selembar uang kertas lecet
Yang dalam keadaan seburuk apapun, selalu disayang dan dipuja
Selalu dibutuhkan kapan dan dimana saja
Mungkin juga aku seperti BBM yang langka dan sulit dicari
Entah karena keberadaanku yang tidak mewakili diriku
Ataukah karena banyak yang dipanggil, tapi sedikit yang dipilih?
Atas nama kualitas dan kuantitas tentunya
Hanya segelintir, tetapi sangat menentukan!
Tetapi aku tak mau dianggap suci dalam kepingan kepasrahan
Atau kudus dalam lilitan keterpaksaan
Aku mau aku dilihat apa adanya
Bukan karena ada apanya
Karena,..AKU JUGA MANUSIA
AKU JUGA MANUSIA!!!








“Golgota terkata
 mulut bisa menipu
hati  tidak
Semua jelas sudah
 benci dan cinta manusia bertarung
tapi
Di atas palang kayu terpaku  sang pendamai
Golgota, bukankah cawan ini harus kuminum?”

Lihatlah salib terpanjang  ia yang sedang bergantung lemah
Lihatlah saat ia menderita serentak mencinta
Lihatlah ia yang mengampuni  dan berpasrah
“Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

 Disana teriak membahana deras bersama tetesan segar darah penebus  membasuh dosa
 “Yesus kalau kamu anak Allah selamatkan dirimu. Selamatkanlah diriMu dan turunlah dari salib itu”!
“Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak bisa Ia selamatkan”.
“Hai, Raja Orang Yahudi, turunlah dari salib itu supaya kami dapat percaya “!
“Engkau yang ingin merobohkan bait Allah, turunlah dari salib jikalau Engkau sungguh – sungguh anak Allah”!
Hai umatku apa salahku padamu?

PerjalananNya memang sangat panjang
 sejauh hidup ini telah dimulai dan akan berakhir.
 LangkahNya benar.
Menggendong kesetiaan dan cinta yang utuh
serentak meringankan langkahNya tapak demi tapak 
hingga  langit dan bumi pun tak kuasa menahanNya.
Tetesan- tetesan  rahmat mengalir deras
sementara  air mataNya terurai turun bahagia
menutup kisah salib penuh bangga,”Selesailah sudah”.
(Ciro)

SEBUAH KISAH UNTUK YESUS



             Ku tuliskan kisah ini buatMU sahabatku, dalam kesendirianku di bawah pohon kamboja di sudut kota malam itu. Aku ingin berjumpah dengan Mu Yesus. Kubingkiskan kisah ini  kepadaMu karena aku prihatin kepada dunia, dunia yang kian hari meninggalkan jejek identitasnya  sebagai Yang Ilahi, sebagai yang terberi dari Allah.
Yesus sahabatku…
Malam kemarin aku sendirian duduk di bawah pohon itu. Walau pun kesedihan masih terniang dalam nubariku aku berusaha membayangkan betapa hebatnya detik-detik penyiksaan dan penyaliban duriMu di bukit Kalvari. Engkau rela disiksa dan  ditikam karena  kejahatan kami. Karena dosa kami, Engkau rela disalibkan.  Tetapi Aku salut dan bangga  akan semangat kenabianMU, semangat yang terus membara dalam ziarah panjang kisah sengsaraMu.  Sungguh dan sungguh teramat tragis, selebinya sedih dan mengenaaskan. Tetapi itulah rencana dan kehendak BapaMU yang di surga. Aku turut sedih Tuhan mengapa dunia seperti ini.
Yesus sahabatku sejatiku…
Membayangkan drama penyiksaan dan penyaliban diriMu  pada dua ribu tahun masa silang adalah sebuah  peristiwa yang  menggerikan. Itu pertandah bahwa situasi manusia diambang kehancuran. Nurani manusia mengalami kekerdilan, mulai menyusut bahkan menipis. Ibarat segumpalan es  yang mencair ketika dipanaskan, itulah nurani manusia. Aku mencoba berpikir dan bertanya dalam hatiku di manakah nurani manusia? Mengapa  drama penyaliban itu, bisa terjadi secara kejam di luar tindakan manusiwi. Aku tak habis pikir, mengapa semua hal ini  bisa terjadi? Sungguh luar bisa dunia ini. Dunia kini hancur oleh gelombang kedasyatan ankara dan dosa manusia yang terparti dalam pola pikir dan tingkah laku manusia. sungguh menyedihkan….
Yesus teman sejatiku
Ziarah hidup yang Engkau tempuh dari istana pilatus sampai Puncak Kalvari adalah bukti cintaMU kepada umat manusia. Medan perjalan itu sangat menggerikan; jalannya bebukit-bukit dan tidak rata, tetapi engkau dengan sabar menjejakinya sampai puncak kalvari. Sungguh penggorbanan yang luar biasa. IbundaMu hanya menetap dengan luka hati yang mendalam. Raut wajahnya menyimpan segudang kesedihan, cinta dan penggorbanan. IbundaMu hanya berpasrah hanya pada kehendak Allah.  Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMU merupakan  bentuk kepasraan Bunda Maria secara total atas  seluruh rencana dan kehendak Allah.  Suasana  kesedihan meliputi deritaMu. Tetapi Engkau tegar menghadapi penderitaanMu dengan cinta bahkan  memberi hiburan
kepada para putri sion, “ Janganlah tangisi diri KU tetapi tanggisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu.”  Terhadap pemuda yang bertobat  Engkau menjanjikan keselamatan, “Mulai hari ini engkau bersama Aku di firdaus.” Itulah hakekat cintaMU kepada umat manusia.
Yesus Guruku .....
kesetiaanMU kepada Allah hingga wafat di salib adalah perjuangan kami yang belum berakhir. Kesadaran akan eksistensi sebagai ciptaan Allah masih berada di garis-batas kehidupan dan bayangan-bayangan semu manusia. KesetiaanMu wafat di kayu salib hanya menjadi sebuah kolaborasi semu umat manusia. Orang lebih berpihak pada kepentingannya sendiri, tanpa memperhatkan sesamanya yang lain. Bahkan banyak dari antara mereka dijadikan umpan peluru demi mempertahankan hidup, privasi dan gengsi hidup kehidupannya. Banyak keluraga Kristen yang telah menerima sakramen atas nama Engkau membalikan seluruh gaya hidupnya pada usaha pencapaian lahiriah semata. Allah tidak lagi dipandang sebagai Allah yang mempersatukan. Budaya cinta kasih dalam keluarga mulai hilang. Masing-masing dari anggota keluarga cenderung hidup sendiri. Kebersamaan dalam keluarga tidak lagi menampakan keluarga yang utuh, bahagia dan sejahtera. Aku menjadi binggung Tuhan, mengapa manusia terus seperti ini?  Apakah dia keliru atau di manakah nuraninya? Aku terdiam serentak mengolah nurani sendiri, apakah aku juga terlibat  di sana?
Yesus sahabatku
Sebentar lagi kami segenap keluarga Kristen akan merayakan pesta paskah, pesta kemenangan umat atas maut. Misteri paskah adalah pesta keselamatan. Arahkan seluruh nurani manusiawi kami untuk menjadikan Engkau satu-satuNya  Allah yang mengantar kami pada kehidupan surga. Baharuilah hidup kami untuk terbuka kepada Allah, rela berkorban dan jadikanlah kami semua sebagai anggota keluarga Kristen yang setia kepada Allah. Kami yakin hanya Engkaulah yang memiliki kuasa atas hidup ini. Datanglah di tengah kehidupan kami dan lewat cintaMu luputkan aku dari amukan belenggu dosa kami. Bukan untuk siapa-siapa kami berharap tetapi hanya untukNya.
Yesus  sahabatku….
Maafkanlah aku, jika selama ini menggap diri hebat, egois, dan angkuh di antara sesama yang lain. Aku merasa bersalah dan ingin membagun suatu tekad yang pasti; aku ingin hidup setia seturut ajaran kasihMu. Aku ingin membagun pribadiku sebagai seorang keluarga Kristen sejati  yang taat pada seluruh rencana dan kehendakMu; membagi kasih dan kebaikan kepda sesama.
Terima kasih Tuhan  karena Engkau masih setia mendengarkan jeritan hatiku  semuaNya ku pasrahkan pada kehendakMu. Hantarlah aku menuju pelabuhan yang tenang dalam dekapan kasih mesrah bersama Allah di suirga .Tuhan jadikanlah hatiku seperti hatiMu.(Villa)

Sri Paus Mengukir Sejarah Baru di Ritapiret



Sri Paus Yohanes paulus II beserta rombongan dari vatikan memasuki Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret pada tanggal 11 Oktober 1989, pukul 18.52 waktu setempat. Rombongan yang menyertai Sri Paus berjumlah 32 orang. Hadir di dalamnya 2 orang kardinal Agostino Cardinal Casaroli, menteri luar negeri vatikan dan Josef Cardinal Tomko yang mengepalai propoganda fidae. Selain itu, duta besar vatikan untuk Indonesia Mgr. Fransesco Canalini dan beberapa uskup agung; Mgr Stanislao Dziwisz, sekretaris paus dan beberapa uskup lainnya serta sejumlah awam. Selain rombongan vatikan, sejumlah pejabat Pemerintah Indonesia Koesmami Hardjono, mantan atase militer Indonesia di Spanyol yang dipercayakan mengawal Sri Paus selama kunjungannya ke Indonesia.
Sebuah sedan mungil hitam mengkilap bertuliskan Tamu Negara berhenti tepat di tengah depan pendopo agung Seminari Ritapiret. Sri Paus disambut dengan ucapan selamat datang dan ciuman penuh sukacita oleh Rm. praeses Dominikus Balo Pr dan prefek Rm. Yosef Nahak Pr. Kepada praeses, Sri Paus berucap”Father Rektor, we are brother Christ. Kemudian satu persatu para pastor dan suster menerima sentuhan tangannya yang lembut dan penuh kasih.  Sri Paus yang didampingi Uskup Agung Ende, Mgr Donatus Djagom SVD memberikan satu persatu rosario kepada masing-masing pastor dan suster sebagai bentuk perhatiannya sekaligus dorongan untuk mencintai doa Rosario. Ia juga memberkati pasasti yang bertuliskan: “DENGAN BERKAT DAN RAHMAT TUHAN, YANG TERSUCI SRI PAUS YOHANES PAULUS PP II, TELAH BERKENAN MENGUNJUNGI SEMINARI TINGGI ST. PETRUS RITAPIRET, MAUMERE=FLORES=NTT=INDONESIA, PADA HARI RABU SORE-KAMIS PAGI TANGGAL 11-12 OKTOBER 1989”. Seusai memberkati prasasti, Sri Paus yang didampingi Mgr Donatus Djagom melangkah ke halaman tengah. Memasuki barisan ke 73 frater dan para karyawan-karyawati, dokter serta juru rawat sekali lagi disambut tepukan tangan yang meriah. Beliau menyambut sukacita anaknya satu persatu dengan rangkulan tangan yang lebut sambil berucap God bless you. Setelahnya, Sri Paus beristirahat sejenak. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan malam bersama Mgr Stanislao, sekretaris pribadinya dan Mgr Donatus Djagom. Beliau dilayani oleh Prof. Dr. Josef Glinka SVD, seorang misionaris Polandia. Pada kesempatan ini juga, Sri Paus dengan tekun mendengar informasi mengenai umatnya di Flores, tentang seminari dan calon imam serta para imam, yang diinformasikan oleh Mgr Donatus Djagom. Sementara itu, para kardianl beserta rombongan lainnya mencicipi santap malam di ruang makan tersendiri.
Pukul 20.00 Sri Paus dan rombongannya menuju Ledalero untuk bertatap muka dengan para imam, frater, dan rohaniwan-rohaniwati. Sekembalinya dari Ledalero, beliau lansung menuju Kapela Agung Seminari Tinggi ST. Petrus Ritapiret untuk berdoa, kemudian bersitirahat. Keheningan Ritapiret penuh damai dan berkat sukacita menyertai istirahat Bapa Suci. Pukul 06.30, Kamis 12 Oktober, Sri Paus menuju kapela, berdoa pribadi, menjumpai sahabatnya Yesus Kristus. Puluhan para frater yang menanti sejak pagi buta di kapela tak terlewatkan moment itu untuk mengabadikan beliau. Seusai sarapan pagi, beliau dijemput Mgr. Donatus Djagom utnk berpose bersama para frater, staf pembina Ritapiret, para suster, dan keamanan di tangga masuk kapela. Setelah acara foto bersama, Sri Paus pun pergi meninggalkan Ritapiret menuju Tim-Tim. Para Frater, para pastor mengiringi beliau ke Pendopo Agung Ritapiret. Sri Paus dengan tenang berdiri di antara para frater dan selanjutnya masuk ke mobil yang didampingi Mgr Donatus. Dengan penuh haru tangan dilambaikan mengiringi deru mobil yang perlahan-lahan mengilang dari pandangan mata.

Rabu, 22 Februari 2012

AKU JUGA MERASAKANNYA AYAH.......






Di dalam mimpi itu seolah-olah aku mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

“Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. ” “Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. ”
“Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. ”
“Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”
“Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihandan kesakitan kerap kali menyerangnya.

“Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pulayang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara.


“Ku-berikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa Istriyang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yangbaik adalah Istri yang senantiasa menemani. & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya ituakan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi.”
“Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganyabisa hidup di dalam keluarga bahagia & BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. ”

“Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya.dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia &
” AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH.”

Rabu, 15 Februari 2012

SUARA YANG TAK SAMPAI



·         MUSIK PENGIRING (Ku Tak Dapat Jalan Sendiri)
·         KOMENTAR
Untuk semua hati
Tolong dengar suaraku
Suara yang tak kunjung sampai
Sampaikan, tolong aku

Untuk semua hati
Tolong tuntun aku
Aku tak dapat jalan sendiri
Sendirian aku menggapai harapanku

(Suara-suara ribut di luar panggung. Penuh fitnaan dan caci-maki. Rilus diusir saudara-saudaranya dari rumah mereka, sehingga Rilus sampai jatuh tersungkur di panggung. Ia pun berusaha bangun dan mencari kayu di sekitarnya untuk menuntunnya berjalan. Ketika dia mendapatkan sebuah kayu, ia pun berjalan tak tahu arah. Ia akhirnya tiba di sebuah batu besar di pinggir jalan. (Agar adegan ini sedikit terkesan komedi, sebaiknya Rilus menggunakan Riben. Ketika ia jatuh, selain ia mencari kayu juga mencari riben yang terlepas. Action bebas.) Ketika sampai di batu, ia berteriak, menangis dan memukuli dirinya. Ia seolah-olah menyerahkan seluruh hidupnya kepada alam.)

Rilus      : (Diiringi insrumen yang sesuai dan setiap kali ia berteriak mama, bapa dan Tuhan selalu di sambung oleh suara dari luar panggung.)
Bapa… di mana kau…mengapa engkau meninggalkan daku di tempat ini (Ia takut pada mentari pagi yang telah tiba, sebab sebentar lagi kesejukkannya akan pergi. Pergi bersama angannya tetapi apa daya mata tak bisa melihat. Ia hendak berpaling pada ayahnya. Namun ayahnya lebih dahulu pergi bersama sang mentari ke tanah rantau.)
Mama… tunggu aku…aku juga mau ke sana… (Ia takut pada senja yang telah tiba, sebab sebentar lagi keindahannya akan pergi. Pergi bersama angannya tetapi apa daya tangan tak sampai. Ia hendak berpaling pada ibunya. Namun ibunya lebih dahalu pergi bersama sang senja ke alam baka.)
Tuhan… Engkau tidak adil… Engkau membiarkan aku menderita begini… (Ia berontak kepada Tuhan. Mengapa Tuhan menciptakan senja dan mentari pagi yang telah merampas kebahagiannya. Ia pula menyesali kehidupannya di bumi ini. Kehidupan yang sungguh hampa, menjadi yatim, dalam keadaan tak punya mata. Mengapa Tuhan tidak mengambil saja sewaktu ia menginjak bumi.)
Petrus : (Bersama istrinya lewat di tempat itu) Hei pemuda, engkau sedang menunggu siapa?
Rilus   : (Kaget) Saya menunggu orangtuaku yang telah diambil mentari pagi dan senja itu.
Petrus : Tapi sekarang kan sudah sore. Hari ini sudah mulai gelap.
Rilus   : Iya, saya menunggu bersamanya. Kiranya, bintang-bintang serta bulan malam ini menunjukkan kepada orangtuaku betapa aku sangat merindukan mereka.
Petrus : Oklah, nak. Sebaiknya engkau bersama kami ke rumahku untuk menunggu orangtuamu. Mereka pasti kembali bersama mentari pagi dan senja esok hari.
Rilus   : Terima kasih atas niat baiknya. Tetapi di sini juga aku ingin bebas menangisi kehidupanku. Aku sudah muak dengan kehidupan yang penuh derita ini.
Petrus : Akh, pemuda ganteng. Jangan kau tangisi kehidupanmu tetapi cobalah untuk memaknainya. Hiduplah bersama orang lain, agar segala bebanmu bisa diringankan. Engkau tidak boleh berjalan sendiri apalagi engkau sedang berada dalam kegelapan hidup.
Rilus   : Aku sudah memaknai kehidupanku dan selalu berada bersama orang lain, bahkan sanak keluarga yang dianggap paling mengerti aku. Akan tetapi mereka ternyata membawa malapetaka bagi hidupku. Aku diusir, disingkirkan, bahkan dibuang dari antara mereka. Aku tak percaya lagi terhadap sesama manusia. Aku sebaiknya berada di alam ini yang justru membawa kedamaian. Bapak sungguh berniat baik seperti alam ini, tetapi biarlah niat itu ditangguhkan atas diriku. Pergilah ke sana, di sana masih ada banyak orang seperti saya.
Petrus : Akh, pemuda ganteng tidak ada gunanya kita berlama-lama di sini. Kita sebaiknya berbincang-bincang di rumah saja.
Rilus   : Terima kasih. Bapak boleh pergi sekarang dan saya tetap di sini.
Petrus : Jangan. Kita harus sama-sama ke sana.
Rilus   : Oklah, saya akan ke sana tetapi sebelumnya saya ingin menghabis sebuah cerita di sini.
Petrus : Baik.
Rilus   : Saya, anak yatim. Ibuku telah meninggal dunia saat melahirkan aku. Kepergian sang ibu membuat kehidupan ayahku tidak jelas. Dalam ketakjelasan itu, ia pun memilih untuk merantau. Dan aku dititipkan pada saudara-saudaranya. Di tengah mereka aku pun hidup menjadi besar. Bertambahnya usiaku tentu suatu kebanggaan dan kegembiraan bagi mereka. Namun harapan itu aku tidak bisa memenuhinya. Karena aku tidak bisa melihat, mataku buta. Aku tidak bisa bekerja keras seperti mereka. Setiap hari aku hanya bisa menghibur mereka dengan petikan gambus yang kumainkan. Namun mereka bosan. Saudara-saudaraku pun mengusir aku dari rumah. Awalnya aku pergi ke keluarga lain, tetapi hal yang sama aku rasakan. Aku pun memilih berada di tempat ini. Siapa tahu bapak dan mama lewat di tempat ini untuk membawa aku kembali ke pelukan mereka.
Istri P  : (Potong) O…ceritanya begitu. Akh bapak, kita harus ke rumah dan beritahu anak-anak kita dulu mengenai rencana ini.
Petrus : (Angguk) Ok pemuda ganteng, kami ke rumah dulu dan besok kami sekeluarga akan ke sini lagi untuk menjemputmu.
Rilus   : (Diam dan menerawang jauh menembusi cakrawala. Dan diiringi dengan instrument  yang sesuai. Suami istri itu pergi)
Rilus   : (Setelah instrument selesai, Rilus kembali bersuara dan agak putus-putus.) Ayah, mama, Tuhan…. Kamu ke mana? Tolong aku, tolong... Aku tak kuat lagi… (akhirnya ia meninggal, istrumen silentio)

·         KOMENTAR :
Hai semua orang di jagat ini
Kukabarkan kepadamu
Tentang kepergian Rilus ke hadapan Tuhan
Ia meninggalkan semua pemilik hati di dunia ini
Ia pergi tanpa pamit

Ia hanya berpesan mohon maaf dan terima kasih kepadamu semua
Semua yang pernah meninggalkan dia
Semua yang pernah menghidupi dia
Semua yang pernah menyakiti hatinya
Dan juga semua yang pernah berjanji padanya.

Sdr2    : (Lewat di tempat itu) Hah… Rilus??? Rilus… Rilus…bagun Rilus. Kami masih mencintaimu. Jangan tinggalkan kami Rilus. Rilus…. (membawa mayat Rilus ke luar panggung sambil menangis)
Petrus : (Masuk) Hah, pemuda itu di mana? (Panggil) Hei pemuda ganteng, engkau di mana? (Mencari) Apakah dia telah pergi bersama bintang-bintang dan bulan? Ataukah dia pergi mengadu di hadapan Tuhan atas deritanya? (Menyesal) Aduh, aku terlambat.

·         Komentar :
Mengapa manusia masih kurang peduli terhadap sesama?
Mengapa manusia selalu lamban untuk membantu sesame?
Mengapa juga penyesalan selalu saja datang terlambat?
Bagaimana dengan kita?
Marilah kita peduli, saling menaruh hormat, saling membagi dan saling menolong.

·         Sebuah lagu