Laman

Minggu, 01 April 2012

SEBUAH KISAH DARI PAROKI TANARAWA


(Sebuah refleksi asistensi natal 2011)
         Pada tanggal 23 Desember aku melangkah menuju medan pastoral yang belum kukenal. Berdasarkan kisah-kisah  dari mereka yang pernah ke paroki Tanarawa, bahwa medan dan situasi budaya yang akan kuhadapi harus penuh dengan hati-hati. Hal ini tentunya membuat diriku sedikit bimbang dan ragu akan keberadaanku di sana. Aneka pikiran dan kecurigaan senantiasa berkecamuk dalam diriku. Tapi karena semangat pastoral yang menggebu dalam diriku akhirnya semuannya itu bisa olah dengan baik.
            Paroki Tanarawa merupakan sebuah paroki kecil di arah Maumere Timur. Perjalanan menuju paroki Tana Rawa tepatnya di kecamatan Waiblama menempuh waktu sekitar 2 jam. Hal ini didukung dengan transportasi yang sangat minim yang hanya sekali dalam sehari berangkat menuju Tanarawa. Paroki Tanarawa dikelola oleh para imam dari biara Pasionis Nilo serta di bantu oleh sebuah komunitas kecil susteran CIJ yang beranggotakan dua suster. Secara keseluruhan Paroki Tanarawa terdiri dari 7 Stasi. Empat stasi memiliki jarak yang sangat jauh serta medan yang jalan yang sangat parah. Hanya kendaraan tertentu saja yang mampu menjangkau tempat tersebut. Sedangkan dua stasi lainnya merupakan stasi yang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan dan harus rela berjalan kaki selama dua jam untuk bisa mencapai daerah tersebut. Jika dilihat dari situasi medan dan tata kehidupan maka justru pusat perkampungan terdapat di stasi luar yaitu stasi Pruda. Sedangkan stasi pusat paroki Tana Rawa merupakan  daerah yang berada di tempat terpisah yang letak rumah umat sangat jauh antara satu dengan yang lainnya.
            Sejenak berada di paroki  Tanarawa membuat aku sedikit bisa mengenal situasi kehidupan umat pada umumnya baik yang berada di stasi pusat maupun di stasi luar yang sempat kulayani. Selama pekan Natal bersama dengan romo, saya berkeliling membantu pelayanan misa dan ibadat natal di stasi pusat maupun stasi luar. Umat paroki Tana Rawa umumnya merupakan penduduk asli yaitu masyarakat Tana Ai. Situasi kehidupan masyarakat Tana Ai masih sangat terbelakang. Keadaan ini menjadi perhatian khusus dari pastor paroki dan pastor pembantu. Masyarakat Tana Ai umumnya masih hidup dalam tradisi budaya mereka. Nampak dalam kehidupan mereka poligami masih bertumbuh sangat subur. Bahkan dalam hidup berpoligami ini mereka masih percaya terhadap konsep bahwa “siapa saja yang mampu beristri hingga lima orang maka akan menjadi anak dewa”. Konsep seperti ini sampai sekarang belum berubah meskipun sudah banyak penyadaran dari pihak gereja melalui mimbar kotbah maupun melalui pemerintah. Akibat lanjut dari sistem poligami ini yaitu bertumbuh suburnya kebiasaan mencuri. Pencurian seakan menjadi hal yang biasa. Masyarakat masih belum bisa membedakan mana haknya dan mana hak orang lain, bahkan paroki pun seakan dijadikan dapur umum bagi siapa saja yang datang ke paroki.
            Kehidupan ekonomi masyarakat Tanarawa bisa dinilai berada di bawa standar. Umumnya masyarakat bermata pencaharian sebagai petani yang mengolah lahan milik orang lain. Kehidupan pendidikan anak-anak sungguh sangat memprihatinkan. Sebagian besar anak-anak hanya menamatkan bangku SMP dan setelah itu terlanjur untuk menikah. Hal ini dianggap biasa saja oleh masyarakat dan orang tua. Namun ada pula masyarakat yang menyekolahkan anak-anaknya ke tingkat yang lebih tinggi di kota Maumere. Selama berada di Tanarawa, saya menyaksikan bagaimana kisah perjuangan orang tua membiayai anak-anaknya yang bersekolah di Maumere atau di luar pulau. Umumnya kehidupan mereka sangat sederhana dengan rumah yang berlantai tanah dan beratapkan alang-alang (ibarat gubuk kecil). Namun mereka berusaha untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah favorit di kota Maumere seperti SMA frateran dan SMA Negri 1. Mereka rela makan sehari hanya dua senduk nasi dan mereka rela untuk sejenak berhenti sekolah.  Semuannya itu demi anggota keluarga mereka yang bersekolah di kota atau di tempat lain. Ketika menyaksikan kehidupan serta penuturan yang tulus dari beberapa umat sejenak air mataku menetes. Saya mencoba membandingkan dengan diri saya. Sejauh ini hidupku selalu beruntung dan nasib baik selalu menyertaiku namun sekarang aku merasa dikalahkan oleh kehidupan serta pengorbanan  mereka yang penuh ketulusan. Ternyata hidup bukanlah sesuatu yang mudah, bukan sekedar kesenangan menerima kiriman uang dari orang tua, berbelanja, atau menghabiskan uang dengan berekreasi dan membeli benda-benda untuk koleksi dan hobi. Ternyata banyak hal yang mewarnai kehidupan. Ibarat pelagi, selama ini hanya warna putih dan merah yang kulihat, tetapi di tengah masyarakat Tanarawa aku mengenal warna jingga, hijau, biru dan ungu.
            Dalam konteks kehidupan menggereja sangat nampak bahwa umat masih belum sepenuhnya menyadari arti sebuah perayaan. Kehadiran umat pada perayaan malam natal di paroki pusat tidak mencapai 100 orang. Berbeda ketika saya bersama pastor paroki merayakan misa malam natal di salah sasatu kapela stasi luar pada pukul 21.00 di mana umat begitu setia menanti hingga kapela pun meluap. Dari kesaksian para imam bahwa semangat menggereja umat di stasi luar lebih tinggi dari pada umat di stasi pusat. Semangat ini bukan hanya dalam hal menghadiri perayaan ekaristi namun untuk segala kegiatan pastoral yang diadakan.
            Setelah hampir empat hari berada dan terlibat dalam pelayanan bersama umat di paroki Tanarawa saya seakan mulai menyadari arti pelayanan pastoral yang sesungguhnya. Asistensi natal di paroki Tanarawa seakan telah membantu saya sedikit untuk memahami dan menyadari arti panggilan saya sebagai seorang calon imam. Di mata umat paroki Tanarawa, kehadiran frater Ritapiret merupakan kado terindah bagi mereka. Sebuah kerinduan bagi mereka yang selalu terpenuhi tatkala menjelang perayaan Natal dan Paskah di mana para frater senantiasa hadir di tengah mereka dan yang mereka alami bahwa itu adalah para frater dari Ritapiret. Ada sedikit kebanggaan bagiku menyaksikan kisah pengalaman mereka. Namun saya tak bisa terbuai dalam pujian tersebut, kerinduan mereka mewakili kerinduan umat katolik umumnya akan kehadiran seorang gembala. Gereja memang tak pernah memaksa saya untuk menjadi imam, nanum ketulusan dan kerinduan umat melukiskan bahwa gereja sungguh membutuhkan imam. Kadang aku alami bahwa saat berada di tengah keramaian dan kegemerlapan dunia orang sungguh tidak menyadari arti dari kehadiran para imam dan calon imam. Namun justru di tempat seperti inilah aku justru harus berhadapan dengan situasi yang sungguh berbeda. Situasi yang menuntutku untuk selalu siap sedia berada di samping mereka dan senantiasa siap untuk membantu melayani mereka. Namun dalam situasi seperti ini aku dilema ketika harus berhadapan dengan situasi kehidupan yang sungguh lain dari mereka. Situasi kehidupan kaum muda yang selalu ingin bebas dan senang-senang. Di sinilah saya ditantang untuk bagaimana harus menyesuaikan diri. Saya tak mungkin bisa lari dan pergi begitu saja dari kebersamaan dengan mereka. Di satu sisi saya harus melawan keinginan manusiawi saya terutama keinginan saya sebagai kaum muda namun di sisi lain saya pun harus menyadari bahwa saya sebagai seorang frater. Ibarat saat ini saya kembali dari perang kecil menuju perang yang lebih besar, yakni perang melawan diri sendiri. Saya berusaha mengendalikan diri walaupun sangat sulit. Inilah tantangan yang harus saya hadapi.
            Berada di sebuah pedalaman yang terpencil yang belum dijangkau listrik dan sarana komunikasi lainnya membuat saya sungguh-sungguh mengalami suasana Betlehem bersama umat paroki Tanarawa. Suasana sunyi tanpa gangguan komunikasi apapun membuat aku sungguh merasakan ketenangan dalam pelayanan. Aku belajar banyak dari lingkungan seperti ini. Selama ini mungkin dalam komunitas aku selalu disibukan dengan barang-barang teknologi yang selalu mengganngu rutinitasku, bahkan menghambat segala tugas ku. Namun kini justru berada di tepat yang terpencil dan jauh dari komunikasi, aku seakan dapat menikmati suasana pelayanan dan kebersamaan dengan umat. Dalam kebersamaan dengan mereka aku memperoleh banyak hal baru yang kiranya dapat berguna bagi hidup dan panggilanku selanjutnya.
            Pertama, melalui asistensi natal 2011 ini saya kembali belajar berani untuk membawakan pelayanan ibadat bagi umat. Dalam konteks ini saya mencoba untuk belajar memahami situasi umat serta mampu menyusun renungan yang sesuai dengan konteks kehidupan mereka. Selain itu kesempatan ini menjadi momen yang baik bagi saya untuk sedikit membagikan segala sesuatu yang berkaitan dengan liturgi kepada umat yang pada umumnya belum sepenuhnya mengetahuinya.
            Kedua, dengan diutus untuk berasistensi di paroki Tanarawa saya belajar untuk lebih menghidupi semangat perutusan Kristus. Pergi ke tempat perutusan dengan tidak membawa harta benda apapun. Di sini saya dilatih utnuk meninggalkan segala harta benda milikku, lalu terjun ke medan kehidupan umat. Di sana aku mencoba untuk turut merasakan kemiskinan yang dihadapi oleh umat setempat. Walaupun dalam kesederhanaan dan kemiskinan namun hidup mereka selalu bahagia. Hingga pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang kaya, yang berlimpah kasih sayang dan persaudaraan. Kehidupan yang tentram karena di tempat ini uang tidak menjadi dewa.
            Ketiga, partisipasi umat yang sangat minim dalam kehidupan menggereja menyadarkan saya bahwa ternyata saat ini umat lebih memilih akan hal-hal yang berbau kesenangan. Perayaan Natal bagi umat paroki Tanarawa lebih berkesan apabila segala persiapan lahiriah terpenuhi. Dalam konteks ini kesibukan dan kerelaan umat untuk ke kota maumere untuk berbelanja lebih tinggi dari pada kesibukan untuk mempersiapkan liturgi natal di gereja. Menjelang natal kendaraan ke kota maumere selalu penuh sesak, namun pada hari natal gereja tidak penuh. Ternyata umat moment natal bagi mereka ialah menyibukan diri pada altar pasar dari pada altar gereja. Hal ini tentunya menggugah hati saya yang berstatus sebagai calon imam untuk semakin berusaha keras mencoba membangkitkan kembali kesadaran umat. Mungkin selama ini saya hanya menyaksikan penghayatan hanya dengan sebelah mata, hanya seputar umat yang hidup di sekitar kota yang begitu antusian dan semangat menyambut natal di gereja. Namun ternyata di tengah pedalaman masih banyak umat yang belum sepenuhnya menyadari hal ini. Tentunya kehadiran seorang gembala di tengah mereka akan sangat membantu membalikkan kesadaran mereka.
            Keempat, kerinduan umat di pedalaman Tanarawa akan kehadiran seorang imam atau pelayan sabda, menunjukan kepada saya bahwa seorang gembala tak selamanya harus berada di depan atau di paroki saja. Namun akan lebih terasa jika mereka terjun langsung dan sejenak ada bersama umat. Pola penyadaran umat di pedalaman tidak selamanya berhasil jika hanya ditunjukan lewat kotbah-kotbah di mimbar. Pola penyadaran akan berhasil dengan baik jika para gembala sungguh mau hadir dalam segala denyut kehidupan mereka dan secara perlahan memberikan penyadaran kepada mereka.

Kamis, 29 Maret 2012

BALADA PENYALIBAN


Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih.
Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
dan ditanam atas maunya.
Mentari meleleh
segala menetes dari luka
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:
- Bapa kami di sorga
telah terbantai domba palling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
Berilah kami bianglala!

Ia melangkah ke Golgota
jantung berwarna paling agung
mengunyah dosa demi dosa
dikunyahnya dan betapa getirnya.
Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut pada debu
dan menangis pula segala perempuan kota.
- Perempuan!
mengapa kautangisi diriku
dan tiada kautangisi dirimu?
Air mawar merah dari tubuhnya
menyiram jalanan kering
jalanan liang-liang jiwa yang papa
dan pembantaian berlangsung
atas taruhan dosa.
Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba:
- Bapa, selesailah semua!
(dari Ballada Orang-orang Tercinta, 1957)

Selasa, 13 Maret 2012

RAUNGAN WAKTU



Dari lembaran itu...
 Putri.... Di manakah sekarang kamu berada.......? Kujumpai tiap kata yang dulu menyembahmu. Kutarik lembar demi lembar kenangan yang telah bersedia menjadi saksi dari senyum kita. Kusapa tiap kata dalam sebuah perenungan panjang, dan aku tenggelam lagi dalam kerinduan tentangmu.
Aku menjamahmu dan kau menggenggam erat hatiku. Kau cairkan luka hati kesendirianku. Kau jadikan semua penuh arti, lalu aku kehilanganmu. Aku sempat lumpuh karenamu. Kini tiap anganku masih menjuntai di antara langit dan bumi.
 di manakah sekarang kamu berada........? pernah kuceritakan tiap keraguan hatiku padamu. Tapi matamu telah menumbuhkn satu jiwa yang lain selain jiwaku. Benih itu benar-benar telah menemukan kebutuhan hidupnya. Sepertinya dia memang adalah jiwa cintaku padamu, karena dia telah menemukan unsur-unsur itu dari pancaranmu. Tapi kadang kamu memancar terlalu terang. Silau dan panas yang sangat hebat telah membuat aku layu dan meninggalkanmu.
Putri,,,, di manakah sekarang kamu berada....? Aku telah menjelmakan semestaku hingga semua orang mampu melihat taburan bintang di sudut mataku. Aku bertahta di atas tiap kata-katayang terpancar dari ujung langit, dan aku menghadiahkan semuanya untukmu. Aku kini menjadi imajinasi murni yang tersadar akan kenyataan. Aku mencintaimu karena Tuhan telah menyematkan benih itu pada ladang hatiku. Aku mencintaimu, karena para mlaikat telah merestuai keluhuran hatiyang tertanam dalam dada manusia. Aku mencintaimu karena cinta, tapi kini aku benar-benar kehilanganmu. (D'O)

KEBENARAN BELUM MATI

Fr. Raul Mbete
Prolog : Daun-daun kesombongan dan keangkuhan telah gugur berjatuhan… tertiup angin, dan entah kemana mereka terbang…jauh, tak satupun yang tahu…sekarang yang tinggal hanyalah kekosongan…kekosongan yang selalu berharap,kekosongan yang rela menanti tuk diselimuti sebuah kisah tentang KEBENARAN … setidaknya untuk dapat membongkar kebrutalan yang selalu memakan korban,menghancurkan naluri binatang para aktor pembunuhan…lantas, apa yang harus dimiliki??? Sadar…yang sepenuhnya…kesadaran…Yang dari Allah…”KESADARAN SUCI…”

ADEGAN I

Latar      : Rumah keuarga Hector. Hector,Rahel,Bara,Pares dan Laura. Layar dibuka.
           Hector    : (Gelisah berjalan kesana kemari perasaannya masih tak  menentu…batinnya bergejolak pasti…terus…berjalan tanpa arah berkelana tanpa   tujuan…apa yang ingin ia gapai???)Rasa-rasanya aku semakin tak sanggup menghadapi semua ini(berpikir sejanak) apakah aku harus mengkhianati Herodes?Ataukah aku harus membinasakan nyawa tak berdosa dari raja baru itu? Akh, Entahlah, tapi sepertinya perasaanku mengatakan lain, entah apa? Tiba-tiba aku takut dan gelisah untuk kemudian menyadari ketakpantasanku. Aku tak tega membunuh Raja baru itu. Ya aku tak punya hak sedikitpun atas nyawanya. Harus kuakui kalau aku memang tak sanggup melakukannya. Sekiranya darah suci itu tak boleh tumpah setitikpun dari tangan seorang pembunuh sepertiku. Cukuplah sudah mayat-mayat orang Filistea dan Nabatea menjadi akhir dari seluruh kisahku.Kisah kelam yang telah menghantarku sampai pada titik ini, rasa-rasanya ada sesuatu yang telah mengubah seluruh hidupku. Ia menyentuh dengan hati dan menyapa lewat perasaan. (Berjalan ke depan lalu memanggil Bara) Bara……….!!!
Bara        : (masuk) Apakah tuan memanggil saya???
Hector    : Pergilah ke Betlehem, di kota Daud dekat padang Efrata dan carilah berita tentang bayi yang baru dilahirkan malam ini. Tapi ingat, jangan sampai gerak-gerikmu tercium oleh para prajurit istana yang lain.
Bara        : Kalau boleh hamba tahu, ada apa sebenarnya dengan bayi itu?
Hector    : Sudahlah!!! aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya, nanti kau juga akan tahu. Lagi pula aku tak sanggup menjelaskan semua ini sementara kebimbangan masih terus menghantuiku. Sekarang pergilah sebelum terlambat.
Bara        : (mengangguk) baik tuan!!! (Lalu keluar)
Hector    : (berpikir) pasti Herodes akan marah besar,seandainya ia tahu akan semua ini… tapi sudahlah…aku siap menerima apapun yang akan terjadi…bahkan kematian sekalipun!!! Lebih baik aku mati demi kebenaran, ketimbang aku hidup di atas keangkuhan yang tak bertanggungjawab. Sudah cukup kekejaman Herodes menyiksa rakyat yang tak berdosa.  Kiranya kehadiran Raja Baru itu menjadi tanda yang menyelamatkanku dan semua orang yang mencintai kebenaran…(tertegun sesaat)
(Tak lama kemudian Rahel  masuk…lalu mendekati Hector)
Rahel      : Apa yang kau pikirkan Hector? Kau kelihatan sangat gelisah…tak seperti biasanya kau tampak seperti ini???
Hector    : seandainya kau tahu apa yang kurasakan, tentu kau tak bedanya dengan aku,,,mendekap dalam kegelisahan ini..
Rahel      : Apa yang sedang kau rasakan, suamiku??? Kuharap bukanlah kesedihan yang meracuni pikiranmu apalagi kesepian yang mengekang hari-harimu. Kalau boleh aku tahu apa gerangan yang menambati perasaan hatimu???
Hector    : Entahlah…tiba-tiba saja aku takut akan perasaanku sendiri, aku takut suatu saat aku tak sanggup membendungnya, karena mungkin ia telah mengalir bersama darahku dan menyatu dengan dagingku.......(baca naskah)

EPISODE TERAKHIR (Sebelum Maut itu Datang Jemput Aku)



I
Kelam malam mendekam seram
Tersekap Aku dalam genggaman kebimbangan
Menjemput kecut-takut
Peluh menetes dari
Sujud Aku tengadah pada-Mu
“ Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau ambillah cawan ini dari pada-Ku tapi bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”

II
Di pekatnya malam pawai berarak
Dengan obor di tangannya
Temui Raga duka dibalut sepi
Ditinggal pergi Bapa
Sebuah kecupan merenggut Aku dalam derita
“Apakah dengan kecupan in kau menyerahkan  aku???”

III
Berlangsunng sudah pembantaian
Entah ke mana mereka menyeret-Ku pergi
Murid tersayang mengintai dari balik semak
Letup kalimat penyangkalan dari rongga mulutnya
Dan kokok jago pecahkan sepi malam
Terjawab sudah sumpah palsu atas Diri-Ku

IV
Kehadapan tuan agung wilayah itu
Sekedar minta persetujuan
Dan sebuah lakon ketidakadilan dipertontonkan
Pada jutaan mata penuh amarah
Dan gemuruh suara membahana
“Salibkan Dia!!!!! enyahkan Dia!!!!!
Sebuah keputusan cacat menjerat Aku

V
Malam beranjak menghilang
Embun menghampar
Seiring kembang kamboja harum semerbak
Pertanda dukacita makin mendekat
Aku digiring pergi menuju bukit duka nun jauh disana
Dengan beban teramat berat menyusuri jalanan kerontang

Segala menetes dari luka
Merah merembes dari tulang keropos
Ratap tangis silih ganti berurutan
Di sudut setapak Bunda berdiri
Menahan getir hatinya yang pedi, pilu
Tatap Aku dalam tangis


VI
Mentari meleleh
Terkapar Aku pada palang
Lalu gelap membentang
Jadi sunyi penuh suci
“Allah-Ku ya Allah-Ku Mengapa Kau tinggalkan Aku?”
Sayup terdengar isak
Lantas senyap kembali mengepul
Di akhir hembusan terucap
“ Bapa selesailah sudah”

ISA DI ATAS PUSARA BISUMU
MINTA AMPUNMU ATAS SALAHKU
Di PUSARAN WAKTU
KAMI MENANTI JAWABAN ATAS KEMENANGANMU
DI HARI BANGKITMU
(fr.Ino Koten)






SALIB ADALAH CINTA



Penginjil  Lukas  menghadirkan kisah dramatis kematian Tuhan Yesus. Kematian Tuhan bukan hanya merobaek-robek hati pengikut setianya, tetapi serentak juga meminta penjelasan dari alam. Kegelapan meliputi daerah itu, tabir bait suci terbelah dua, dan terdengarlah ungkapan hati yang jujur dari kepala pasukan, “sungguh orang ini adalah anak Allah”. Tuhan mati mengenaskan di tiang salaib. Inikah  kesalahan terbesar orang Yahudi karena telah membunuh Tuhan? Atau kebebalan hati yang tidak tertembus belas kasih dari serdadu Romawi? Lalu apakah kejadian 2000 tahun silam juga tidak diakibatkan oleh dusta zaman ini? Apakah kita berayun bebas melemparkan tanggung jawab dan menimpahkan kesalahan, murni kepada bangsa Yahudi dan serdadu Romawi? Klaim kita…kita bukan pembunuh tapi murid-murid-Nya. Kitalah yang menurunkan Tuhan dari salib, memandikan-Nya dengan air mata kita, menguburkan-NYa, dan menantikan kegemilangan kebangkitan-Nya.

            St. Lukas melukiskan, Tuhan sangat sendiri dalam kematianNya. Bahkan semua orng yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh ketika menyaksikan Tuhan mati, pelan-pelan dan mengenaskan. Mereka tidak pernanh mendampingi-Nya  begitu dekat di saat-saat terakhir hidup-Nya. Mereka berdiri sangat jauh bahkan tidak mendengar teriakan Tuhan yang nyaring kepada Bapa-Nya. Bahkan mereka memisahkan dirinya dari pembunuh yang mungkin bertobat, yang menyaksikan kematian Tuhan sangat dekat, yang memukul-mukul diri mereka, yang menyadari  bahwa diri mereka juga adalah pembunuh.
            Dan kita? Kita adalah murid-murid Tuhan yang berdiri jauh itu, yang tidak menyadari diri bahwa kita jugalah pembunuh-Nya. Memang kematian  Tuhan lebih karena cinta. Memang cinta Tuhan mesti berakhir pada salib. Cinta adalah salib. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa kita juga ikut bertangung jawab atas kematian Tuhan. Kita telah membunuh Tuhan karena menganggap diri sujci lalu memisahkan diri dari orang berdosa yang mau bertobat. Kita adalah pembunuh Tuhan ketika kita berseru  nyaring  perihal cinta kasih padahal kita mengabaikan orang miskin, lemah, menderita yang lalu-lalang di depan kita, di sekitar kita. Kita telah menusuk hati Tuhan ketika kita mengajarkan kepada orang lain agar merawat orang sakit, membalut luka mereka, membersihkan penyakit sosial. Sedangkan kita sendiri tidak pernah menyentuhnya. Ya…kita, calon imam dan imam, semua warga komunitas Rita, semua yang hadir pada sore ini. Tuhan pernah bilang, “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang  saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”. Kita mungkin juga telah menguburkan Tuhan ketika kita tetap mempertahankan kemunafikan hanya untuk citra diri, gengsi, yang sebenarnya tidak kita restui. Hinggal kita menilai apakah Nietszche salah…atau mungkin, dia  benar bahwa kita telah membunuh Tuhan dengan laku kita.(Safan)


YESUS MENASIHATI WANITA-WANITA YANG MENANGIS


Tapak-tapak Golgota membias kenangan. Air mata wanita-wanita Yerusalem mengalir tak terbendung. Teriris hati mereka menatap Yesus telanjang dada dengan bilur sekucur tubuh, dikawal  prajurit berderet dengan cambuk dan cemeti, sembari memikul salib menuju Bukit Kalvari. Sungguh, mereka tak sudi menyaksikan kengerian ini. Mereka tak tahu harus mengatakan apa tentang getar-getar perasaan mereka, tentang rasa duka dan solidaritas mereka terhadap penderitaan Sang Almasih. Yang ada hanyalah kepasrahan. Kepasrahan cinta para wanita Yerusalem yang letih dan gerah, yang tak berdaya dan tak punya kuasa untuk melawan para penguasa lalim dan para sedadu bengis yang  telah mempertontonkan episode penderitaan yang sungguh tidak berprikemanusiaan.
Yesus menanggapi rasa iba dan mendengar ratapan mereka.  Dia tak mau kita terlarut dalam rasa duka yang berkepanjangan, mengharukan, menggetarkan dan menusuk nurani kemanusiaan kita. “Jangan kamu menangisi Aku, tetapi tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu”. Nasihat yang diperdengarkan kepada para wanita ini merupakan kritikan pedas untuk kita. Dengan ini Yesus menginginkan kita menangisi atau menyadari dosa kita. Kita berbalik dari dosa, yang berarti merubah sikap batin dan pandangan hidup, melepaskan masa silam yang kelabu, mengakui kesalahan-kesalahan, menghilangkan nilai-nilai yang dihayati secara palsu, membebaskan diri dari keterkungkungan diri yang egoistis dan egosentris, melenyapkan sikap pasrah terhadap kenyataan ketakberdayaan yang diperdayakan, membebaskan dari ikatan yang tidak berkenan kepada Tuhan, yang berlawanan dengan tuntutan Ilahi. FR. ISTO DUA