Laman

Kamis, 29 Maret 2012

BALADA PENYALIBAN


Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih.
Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
dan ditanam atas maunya.
Mentari meleleh
segala menetes dari luka
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:
- Bapa kami di sorga
telah terbantai domba palling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
Berilah kami bianglala!

Ia melangkah ke Golgota
jantung berwarna paling agung
mengunyah dosa demi dosa
dikunyahnya dan betapa getirnya.
Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut pada debu
dan menangis pula segala perempuan kota.
- Perempuan!
mengapa kautangisi diriku
dan tiada kautangisi dirimu?
Air mawar merah dari tubuhnya
menyiram jalanan kering
jalanan liang-liang jiwa yang papa
dan pembantaian berlangsung
atas taruhan dosa.
Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba:
- Bapa, selesailah semua!
(dari Ballada Orang-orang Tercinta, 1957)

Selasa, 13 Maret 2012

RAUNGAN WAKTU



Dari lembaran itu...
 Putri.... Di manakah sekarang kamu berada.......? Kujumpai tiap kata yang dulu menyembahmu. Kutarik lembar demi lembar kenangan yang telah bersedia menjadi saksi dari senyum kita. Kusapa tiap kata dalam sebuah perenungan panjang, dan aku tenggelam lagi dalam kerinduan tentangmu.
Aku menjamahmu dan kau menggenggam erat hatiku. Kau cairkan luka hati kesendirianku. Kau jadikan semua penuh arti, lalu aku kehilanganmu. Aku sempat lumpuh karenamu. Kini tiap anganku masih menjuntai di antara langit dan bumi.
 di manakah sekarang kamu berada........? pernah kuceritakan tiap keraguan hatiku padamu. Tapi matamu telah menumbuhkn satu jiwa yang lain selain jiwaku. Benih itu benar-benar telah menemukan kebutuhan hidupnya. Sepertinya dia memang adalah jiwa cintaku padamu, karena dia telah menemukan unsur-unsur itu dari pancaranmu. Tapi kadang kamu memancar terlalu terang. Silau dan panas yang sangat hebat telah membuat aku layu dan meninggalkanmu.
Putri,,,, di manakah sekarang kamu berada....? Aku telah menjelmakan semestaku hingga semua orang mampu melihat taburan bintang di sudut mataku. Aku bertahta di atas tiap kata-katayang terpancar dari ujung langit, dan aku menghadiahkan semuanya untukmu. Aku kini menjadi imajinasi murni yang tersadar akan kenyataan. Aku mencintaimu karena Tuhan telah menyematkan benih itu pada ladang hatiku. Aku mencintaimu, karena para mlaikat telah merestuai keluhuran hatiyang tertanam dalam dada manusia. Aku mencintaimu karena cinta, tapi kini aku benar-benar kehilanganmu. (D'O)

KEBENARAN BELUM MATI

Fr. Raul Mbete
Prolog : Daun-daun kesombongan dan keangkuhan telah gugur berjatuhan… tertiup angin, dan entah kemana mereka terbang…jauh, tak satupun yang tahu…sekarang yang tinggal hanyalah kekosongan…kekosongan yang selalu berharap,kekosongan yang rela menanti tuk diselimuti sebuah kisah tentang KEBENARAN … setidaknya untuk dapat membongkar kebrutalan yang selalu memakan korban,menghancurkan naluri binatang para aktor pembunuhan…lantas, apa yang harus dimiliki??? Sadar…yang sepenuhnya…kesadaran…Yang dari Allah…”KESADARAN SUCI…”

ADEGAN I

Latar      : Rumah keuarga Hector. Hector,Rahel,Bara,Pares dan Laura. Layar dibuka.
           Hector    : (Gelisah berjalan kesana kemari perasaannya masih tak  menentu…batinnya bergejolak pasti…terus…berjalan tanpa arah berkelana tanpa   tujuan…apa yang ingin ia gapai???)Rasa-rasanya aku semakin tak sanggup menghadapi semua ini(berpikir sejanak) apakah aku harus mengkhianati Herodes?Ataukah aku harus membinasakan nyawa tak berdosa dari raja baru itu? Akh, Entahlah, tapi sepertinya perasaanku mengatakan lain, entah apa? Tiba-tiba aku takut dan gelisah untuk kemudian menyadari ketakpantasanku. Aku tak tega membunuh Raja baru itu. Ya aku tak punya hak sedikitpun atas nyawanya. Harus kuakui kalau aku memang tak sanggup melakukannya. Sekiranya darah suci itu tak boleh tumpah setitikpun dari tangan seorang pembunuh sepertiku. Cukuplah sudah mayat-mayat orang Filistea dan Nabatea menjadi akhir dari seluruh kisahku.Kisah kelam yang telah menghantarku sampai pada titik ini, rasa-rasanya ada sesuatu yang telah mengubah seluruh hidupku. Ia menyentuh dengan hati dan menyapa lewat perasaan. (Berjalan ke depan lalu memanggil Bara) Bara……….!!!
Bara        : (masuk) Apakah tuan memanggil saya???
Hector    : Pergilah ke Betlehem, di kota Daud dekat padang Efrata dan carilah berita tentang bayi yang baru dilahirkan malam ini. Tapi ingat, jangan sampai gerak-gerikmu tercium oleh para prajurit istana yang lain.
Bara        : Kalau boleh hamba tahu, ada apa sebenarnya dengan bayi itu?
Hector    : Sudahlah!!! aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya, nanti kau juga akan tahu. Lagi pula aku tak sanggup menjelaskan semua ini sementara kebimbangan masih terus menghantuiku. Sekarang pergilah sebelum terlambat.
Bara        : (mengangguk) baik tuan!!! (Lalu keluar)
Hector    : (berpikir) pasti Herodes akan marah besar,seandainya ia tahu akan semua ini… tapi sudahlah…aku siap menerima apapun yang akan terjadi…bahkan kematian sekalipun!!! Lebih baik aku mati demi kebenaran, ketimbang aku hidup di atas keangkuhan yang tak bertanggungjawab. Sudah cukup kekejaman Herodes menyiksa rakyat yang tak berdosa.  Kiranya kehadiran Raja Baru itu menjadi tanda yang menyelamatkanku dan semua orang yang mencintai kebenaran…(tertegun sesaat)
(Tak lama kemudian Rahel  masuk…lalu mendekati Hector)
Rahel      : Apa yang kau pikirkan Hector? Kau kelihatan sangat gelisah…tak seperti biasanya kau tampak seperti ini???
Hector    : seandainya kau tahu apa yang kurasakan, tentu kau tak bedanya dengan aku,,,mendekap dalam kegelisahan ini..
Rahel      : Apa yang sedang kau rasakan, suamiku??? Kuharap bukanlah kesedihan yang meracuni pikiranmu apalagi kesepian yang mengekang hari-harimu. Kalau boleh aku tahu apa gerangan yang menambati perasaan hatimu???
Hector    : Entahlah…tiba-tiba saja aku takut akan perasaanku sendiri, aku takut suatu saat aku tak sanggup membendungnya, karena mungkin ia telah mengalir bersama darahku dan menyatu dengan dagingku.......(baca naskah)

EPISODE TERAKHIR (Sebelum Maut itu Datang Jemput Aku)



I
Kelam malam mendekam seram
Tersekap Aku dalam genggaman kebimbangan
Menjemput kecut-takut
Peluh menetes dari
Sujud Aku tengadah pada-Mu
“ Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau ambillah cawan ini dari pada-Ku tapi bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”

II
Di pekatnya malam pawai berarak
Dengan obor di tangannya
Temui Raga duka dibalut sepi
Ditinggal pergi Bapa
Sebuah kecupan merenggut Aku dalam derita
“Apakah dengan kecupan in kau menyerahkan  aku???”

III
Berlangsunng sudah pembantaian
Entah ke mana mereka menyeret-Ku pergi
Murid tersayang mengintai dari balik semak
Letup kalimat penyangkalan dari rongga mulutnya
Dan kokok jago pecahkan sepi malam
Terjawab sudah sumpah palsu atas Diri-Ku

IV
Kehadapan tuan agung wilayah itu
Sekedar minta persetujuan
Dan sebuah lakon ketidakadilan dipertontonkan
Pada jutaan mata penuh amarah
Dan gemuruh suara membahana
“Salibkan Dia!!!!! enyahkan Dia!!!!!
Sebuah keputusan cacat menjerat Aku

V
Malam beranjak menghilang
Embun menghampar
Seiring kembang kamboja harum semerbak
Pertanda dukacita makin mendekat
Aku digiring pergi menuju bukit duka nun jauh disana
Dengan beban teramat berat menyusuri jalanan kerontang

Segala menetes dari luka
Merah merembes dari tulang keropos
Ratap tangis silih ganti berurutan
Di sudut setapak Bunda berdiri
Menahan getir hatinya yang pedi, pilu
Tatap Aku dalam tangis


VI
Mentari meleleh
Terkapar Aku pada palang
Lalu gelap membentang
Jadi sunyi penuh suci
“Allah-Ku ya Allah-Ku Mengapa Kau tinggalkan Aku?”
Sayup terdengar isak
Lantas senyap kembali mengepul
Di akhir hembusan terucap
“ Bapa selesailah sudah”

ISA DI ATAS PUSARA BISUMU
MINTA AMPUNMU ATAS SALAHKU
Di PUSARAN WAKTU
KAMI MENANTI JAWABAN ATAS KEMENANGANMU
DI HARI BANGKITMU
(fr.Ino Koten)






SALIB ADALAH CINTA



Penginjil  Lukas  menghadirkan kisah dramatis kematian Tuhan Yesus. Kematian Tuhan bukan hanya merobaek-robek hati pengikut setianya, tetapi serentak juga meminta penjelasan dari alam. Kegelapan meliputi daerah itu, tabir bait suci terbelah dua, dan terdengarlah ungkapan hati yang jujur dari kepala pasukan, “sungguh orang ini adalah anak Allah”. Tuhan mati mengenaskan di tiang salaib. Inikah  kesalahan terbesar orang Yahudi karena telah membunuh Tuhan? Atau kebebalan hati yang tidak tertembus belas kasih dari serdadu Romawi? Lalu apakah kejadian 2000 tahun silam juga tidak diakibatkan oleh dusta zaman ini? Apakah kita berayun bebas melemparkan tanggung jawab dan menimpahkan kesalahan, murni kepada bangsa Yahudi dan serdadu Romawi? Klaim kita…kita bukan pembunuh tapi murid-murid-Nya. Kitalah yang menurunkan Tuhan dari salib, memandikan-Nya dengan air mata kita, menguburkan-NYa, dan menantikan kegemilangan kebangkitan-Nya.

            St. Lukas melukiskan, Tuhan sangat sendiri dalam kematianNya. Bahkan semua orng yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh ketika menyaksikan Tuhan mati, pelan-pelan dan mengenaskan. Mereka tidak pernanh mendampingi-Nya  begitu dekat di saat-saat terakhir hidup-Nya. Mereka berdiri sangat jauh bahkan tidak mendengar teriakan Tuhan yang nyaring kepada Bapa-Nya. Bahkan mereka memisahkan dirinya dari pembunuh yang mungkin bertobat, yang menyaksikan kematian Tuhan sangat dekat, yang memukul-mukul diri mereka, yang menyadari  bahwa diri mereka juga adalah pembunuh.
            Dan kita? Kita adalah murid-murid Tuhan yang berdiri jauh itu, yang tidak menyadari diri bahwa kita jugalah pembunuh-Nya. Memang kematian  Tuhan lebih karena cinta. Memang cinta Tuhan mesti berakhir pada salib. Cinta adalah salib. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa kita juga ikut bertangung jawab atas kematian Tuhan. Kita telah membunuh Tuhan karena menganggap diri sujci lalu memisahkan diri dari orang berdosa yang mau bertobat. Kita adalah pembunuh Tuhan ketika kita berseru  nyaring  perihal cinta kasih padahal kita mengabaikan orang miskin, lemah, menderita yang lalu-lalang di depan kita, di sekitar kita. Kita telah menusuk hati Tuhan ketika kita mengajarkan kepada orang lain agar merawat orang sakit, membalut luka mereka, membersihkan penyakit sosial. Sedangkan kita sendiri tidak pernah menyentuhnya. Ya…kita, calon imam dan imam, semua warga komunitas Rita, semua yang hadir pada sore ini. Tuhan pernah bilang, “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang  saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”. Kita mungkin juga telah menguburkan Tuhan ketika kita tetap mempertahankan kemunafikan hanya untuk citra diri, gengsi, yang sebenarnya tidak kita restui. Hinggal kita menilai apakah Nietszche salah…atau mungkin, dia  benar bahwa kita telah membunuh Tuhan dengan laku kita.(Safan)


YESUS MENASIHATI WANITA-WANITA YANG MENANGIS


Tapak-tapak Golgota membias kenangan. Air mata wanita-wanita Yerusalem mengalir tak terbendung. Teriris hati mereka menatap Yesus telanjang dada dengan bilur sekucur tubuh, dikawal  prajurit berderet dengan cambuk dan cemeti, sembari memikul salib menuju Bukit Kalvari. Sungguh, mereka tak sudi menyaksikan kengerian ini. Mereka tak tahu harus mengatakan apa tentang getar-getar perasaan mereka, tentang rasa duka dan solidaritas mereka terhadap penderitaan Sang Almasih. Yang ada hanyalah kepasrahan. Kepasrahan cinta para wanita Yerusalem yang letih dan gerah, yang tak berdaya dan tak punya kuasa untuk melawan para penguasa lalim dan para sedadu bengis yang  telah mempertontonkan episode penderitaan yang sungguh tidak berprikemanusiaan.
Yesus menanggapi rasa iba dan mendengar ratapan mereka.  Dia tak mau kita terlarut dalam rasa duka yang berkepanjangan, mengharukan, menggetarkan dan menusuk nurani kemanusiaan kita. “Jangan kamu menangisi Aku, tetapi tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu”. Nasihat yang diperdengarkan kepada para wanita ini merupakan kritikan pedas untuk kita. Dengan ini Yesus menginginkan kita menangisi atau menyadari dosa kita. Kita berbalik dari dosa, yang berarti merubah sikap batin dan pandangan hidup, melepaskan masa silam yang kelabu, mengakui kesalahan-kesalahan, menghilangkan nilai-nilai yang dihayati secara palsu, membebaskan diri dari keterkungkungan diri yang egoistis dan egosentris, melenyapkan sikap pasrah terhadap kenyataan ketakberdayaan yang diperdayakan, membebaskan dari ikatan yang tidak berkenan kepada Tuhan, yang berlawanan dengan tuntutan Ilahi. FR. ISTO DUA

DILEMA


Dilema mengandaikan situasi dengan dua pilihan yang bernilai sama ; sama besar pengorbanan yang harus dikeluarkan, sama berat risiko yang diterima, sama besar hasil yang diperoleh,. Sebuah peribahasa tua ; ‘bagai makan buah simalakama’,  mungkin bisa membantu kita tahu lukisan situasi dilema. Di satu pihak, memilih makan buah simalakama, berarti kita mempercepat waktu kematian kita. Di pihak lain, memilih tidak makan, berarti menambah tingkat, kualitas kesengsaraan kita. Keputusan dan tindakan dalam situasi dilematis, tidak bisa tidak melahirkan penilaian yang bernuansa kurang-negatif, atau penilian yang jauh dari titik maksimum (kebaikan, kesempurnaan, positif, dan sebagainya).    Situasi dilematis datang dan menyerang siapa saja. Hidup itu suatu pilihan ; bukan hanya menunjukkan bahwa hidup itu pilihan dari opsi lain yaitu kematian tetapi juga menegaskan banyaknya pilihan yang harus dialami dalam hidup. Manusia hidup dan oleh karenaya manusia dihadapkan dengan pilihan dalam hidup. Situasi dilematis pun datang dan mendiami rumah pastoran. Pastor punya dilema, dalam ungkapan yang trend saat ini ; dilema pastor dalam memilih pilihan atau membuat keputusan. Saat lebih memilih tinggal dipastoran saja, nanti dibilang kuper. Sebaliknya saat banyak berkunjung, disebut tukang jalan. Saat tampil dengan pakaian sederhana, dibilang gak gaul, tidak ikut trend. Sebaliknya saat tampil dengan mewah dan rapih, dijuluki sosok yang tidak sederhana, yang suka bergaya. Saat omong tentang uang, disebut mata duitan. Sebaliknya saat diam tentang uang, dicurigai sembunyikan duit. Saat berbicara keras dan tegas, disebut sosok yang kaku, tidak ramai diajak omong. Sebaliknya saat bersikap tenang dan lembut, dibilang tidak teguh pendirian, mudah terbawa. Saat berbicara banyak, dijuluki si cerewet. Sebaliknya saat lebih memilih diam, dijuluki sosok yang dingin, tanpa basa-basi.
Di samping itu, rumah-rumah umat pun dikunjungi situasi dilema. Dalam bahasa sehari-hari, biasa disebut dilema umat ; saat memilih berkonsultasi, dibilang cari perhatian. Saat diam-diam saja dengan masalah yang ada, disebut-sebut takut/menghindar. Saat berkunjung ke pastoran, digosipkan ini dan itu. Sebaliknya, jika tidak berkunjung, dibilang bukan umat paroki bersangkutan. Saat mengajak pastor berkunjung ke rumah, dibilang mau tunjukkan diri. Sebaliknya saat tidak sekali pun mengajak pastor kerumah, disebut lupa orang, lupa keluarga. Saat berbicara banyak tentang pastor, digosipkan pasti berhubungan dekat. Sebaliknya, saat memilih diam untuk berbicara tentang pastor, disebut jarang berkomunikasi dengan pastor. Keputusan lari dari situasi dilema sama sekali tidak akan menyingkirkan situasi dan pilihan dilematis. Jalan satu-satunya adalah menjalankan dan memutuskan dalam situasi dilemma. Namun keputusan hendaknya bukan keputusan/ tindakan sepihak sebab jika demikian hanya akan tetap menghasilkan penilaian yang kurang. Melainkan perlu ada pertimbangan yang melibatkan sesama sehingga bersama-sama menentukan dan mengambil pilihan/jalan yang tepat dan baik. Pertimbangan bersama dalam suatu kesempatan bersama yakni dialog. Dialog mengandaikan ada keterbukaan dan kerelaan menyampaikan dan menerima kritikan dan masukan.